Kado Tiga Buah Kaktus
Kado Tiga Buah Kaktus
Oleh Noer Anna Della
Konon di suatu padang pasir yang sepi
hiduplah sebuah pohon penyendiri bernama Kaktus. Dia berduri banyak, bewarna
hijau, dan kokoh berdiri meski sendirian. Dari luar ia terlihat tampak
menyeramkan untuk di sentuh.
Suatu hari, ia berjalan mengitari padang
pasir untuk mencari seorang teman. Hasilnya pun tetap nihil. Di sana sepertinya
terlihat sulit untuk mendapatkan teman. Tapi ia tetap kokoh berdiri meski tanpa
siapapun. Ia percaya diri sekali, bahwa ia tetap tegar tanpa siapapun.
Beberapa
hari kemudian Kaktus berjalan jauh, dan ia mulai kehausan. Tubuhnya seolah
melemah karena kehabisan bahan bakar. Kaktus tiba-tiba melihat sebuah Oasis di
ujung padang pasir dekat bebatuan kerikil yang bertumpuk. Ia melihat
teman-teman. Ada Sungai Jernih, Pohon Kelapa, Rumput Hijau, dan Bebatuan bersih
yang terciprat oleh sapuan air sungai.
“ Aku bertemu mereka!” Teriak Kaktus penuh
semangat. Ia kemudian berlari dengan cepat sampai ke tempat itu. Dugaannya
benar, usahanya membuahkan hasil.
Kaktus langsung menghirup air sungai yang
ia lihat. Ia sungguh kehausan, dan sungguh kelelahan. Paman Pohon Kelapa
menyapanya dengan ramah.
“Hai Kaktus! Kau sendirian ?.” tanya Paman
Pohon Kelapa dengan senyum sumringah.
Kaktus kaget dengan sapaan itu. Baru kali
ini ada yang menyapanya duluan. Biasanya, teman-teman menjauhinya karena
tubuhnya yang menyebabkan luka pada yang lain.
“Kau tidak takut denganku ?. Aku penuh
duri. Aku bisa melukaimu kapan saja.” Kaktus memberi alasan pada Paman Pohon
Kelapa.
“Kenapa harus takut. Akupun begitu. Aku
bisa saja menjatuhkan Kelapa dari daun rambutku jika kumau. Dan korbanku bisa
saja mengalami geger otak ringan. Tapi aku tidak ingin melakukannya.” Kata
Paman Pohon Kelapa tertawa. Ia lalu meneruskan. “Tidak semua yang terlihat
buruk di luar, juga buruk di dalam bukan ?. Begitupun sebaliknya.”
“Bolehkah aku tinggal disini bersama kalian
semua ?.” Kaktus mengedarkan pandangannya ke semua penjuru Oasis.
“Tentu!” Jawab yang lain bersamaan.
“Caranya ?.” Kaktus bertanya bingung.
“Kita bisa bergotong Royong untuk menjalani
ini semua.”
Kaktus tersenyum penuh kegembiraan.
Dugaannya selama ini salah. Kaktus yang waktu itu berjalan penuh percaya diri
dan tegar tanpa siapapun, kini menjadi kaktus yang tetap percaya diri tetapi
rendah hati karena ia pasti membutuhkan pertolongan siapapun di manapun. Tanpa
teman-teman ,tanpa air , dan tanpa Paman Pohon kelapa, mungkin saat ini Kaktus
sudah mati kehausan karena teriknya matahari di padang pasir.
Ia berterimah kasih kepada semua Teman-teman
barunya. Yang menolongnya untuk tetap hidup sampai saat ini. Dan ia juga
berterimakasih pada Tuhan, dan bersimpuh meminta maaf padanya karena tidak ada
ciptaan-Nya yang sempurna di dunia ini.
Semua pasti mempunyai Kelebihan dan Kekurangannya masing-masing.
“selesai.”
Kata Ibu seraya menutup Buku Dongeng bergambar Pohon Kaktus yang terlihat tipis
itu.
“Aku
ingin menjadi kaktus yang percaya diri dan rendah hati Bu.” King tersenyum
dengan lucunya. Kemudian ia tidur dengan lampu temaram di kamarnya.
King
masih kelas satu SD. Ia hidup seperti anak kecil pada umumnya, suka mewarnai,
menghayal, dan bermain. Satu hal yang mengganjal dalam dirinya, ia buruk dalam
bersosialisasi.
***
“King
sepertinya kurang bersosialisasi kepada teman-temannya Bu. Dia pendiam, dan
Dingin. Saya pernah bertanya pada teman sebangkunya King. Dan dia langsung
bilang, kalau King anak yang menyebalkan. Sejak saat itu, King jadi duduk
sendirian di pojok depan, tanpa teman sebangku karna temannya pindah tempat
duduk.” Wali kelas King menceritakan peranan King saat di sekolah Kemarin.
Saat
itu pembagian rapor tengah smester. Seperti biasa, setiap orang tua di panggil
satu-persatu untuk di perlihatkan perkembangan sang anak dan nilai rapornya.
Tapi bagai petir di siang bolong, ucapan sang guru membuat hati Ibu King sedih.
Anak satu-satunya tidak tumbuh bersosialisasi dengan baik seperti anak lainnya.
“Apakah
Ibu bertanya pada teman sebangkunya, apa alasan dia bilang King menyebalkan ?.”
tanya Ibu King dengan lembutnya.
“Ia
tidak mau bilang, dan langsung pergi meninggalkan saya.” Kata Wali kelas dengan
tatapan wajah murung.
Beberapa
hari kemudian, adalah hari dimana King lahir. King ulang tahun untuk yang ke
enam. Ibu dan ayahnya memberikan sekotak Kado dengan syarat harus di buka, saat
pertanyaan-pertanyaan dari Ibunya terjawab semua oleh King.
“Pertanyaan
pertama untuk King anak ibu. Siapa Sahabat King di Sekolah ?.” Tanya Ibunya
dengan senyuman khasnya.
“Masa
sih ?. Tiga puluh orang lho. Masa tidak ada satupun.” Ibu King memancing dengan
penuh harap usahanya berhasil.
“Dulu
ada. Namanya Kiki, anak perempuan yang duduk sebangku denganku. Tapi ia malah
mencuri penghapusku. Dia bilang sudah mengembalikannya, tapi aku tidak
melihatnya saat dia mengembalikan. Aku tidak suka berteman dengan pencuri.
Setelah itu dia menangis, dan pindah tempat duduk.” King bercerita dengan wajah
datarnya.
“Kenapa
King bilang seperti itu. King kan bisa cari dulu. Mungkin terjatuh di lantai
?.” Ibunya tetap berbicara dengan halus. Ia sadar kalau anaknya mempunyai sifat
yang dingin dan terlalu jujur.
“Tidak
mungkin Bu. Penghapusnya hilang setelah di pinjam olehnya.”
“Ya
sudah kalau begitu. Sekarang Pertanyaan yang kedua. Berapa teman dekat King
yang ada di kelas ?.” Tanya Ibu King dengan senyum lembutnya.
“Tidak
ada Bu... Aku tidak butuh teman.” King menjawab dengan kekesalannya.
“King
ingat cerita Pohon Kaktus waktu itu ?. King kan pernah bilang, Ingin seperti
Kaktus yang percaya diri namun tetap rendah hati.” Ibu King mengusap lembut
rambut King. Ia lalu menunduk dengan perasaan sedikit bersalah karena telah
membentak Ibunya barusan.
“Teman-teman
tidak mau mendekatiku Bu. Katanya aku pelit. Aku hanya tidak ingin peralatan
tulis ku hilang semua. Jadi aku tidak ingin meminjamkannya.” King bercerita
pelan.
“King
kan bisa bilang, setelah dipakai langsung di kembalikan. Begitu.” Kata Ibu King
dengan sabarnya.
“Kiki
juga seperti itu. Tapi malah hilang penghapusku yang masih baru itu.”
Ibu
lalu memberikan sekotak sedang Kado berbungkus tema tumbuhan. King membuka
dengan penuh semangat, berharap kadonya berisi Mobil Remote Control atau Robot
Gundam kesukaannya.
“Ini
Apa ?.” Tanya King dengan kebingungan. Kado tersebut berisi tiga buah pot kecil
dengan tiga buah pohon bonsai kaktus yang jenisnya berbeda.
“Itu
adalah Kaktus. Kau suka ?.” Tanya ibu sambil membantu King mengeluarkan Kaktus
Bonsai tersebut dari dalam kotak kado.
“
Wah, jadi ini Si Pohon Berduri Penuh Percaya Diri Dan Rendah Hati ?.” King
terkagum melihat Kaktus tersebut yang lebih terlihat seperti Ksatria baginya
dibanding seperti tumbuhan biasa.
“Ya..
Dia gagah bukan ?.”
“Sangat
Gagah.” Jawab King dengan senyum yang sumringah. Ia lalu membawa tiga pohon
kecil itu ke belakang taman rumahnya. King mendekatkan Pot tersebut dengan
tanaman yang lainnya. “Ini teman-temanmu. Agar kalian tidak kesepian.” Kata
King mengajak bicara Kaktus tersebut.
***
Pagi
hari yang terlihat sangat cerah tidak seperti biasanya. King segera menuju
halaman belakang untuk menyapa sejenak teman barunya yang baru ia dapat dari
Ibu dan Ayahnya kemarin. Kado tiga buah Kaktus yang sangat berarti.
“Ibu...
Ayah... Kaktusku hilang!” King teriak menggelegar hingga terdengar sampai ruang
tamu. Ia kemudian melihat sebuah Pot kecil kosong yang berisi tanah. King lalu
mengeluarkan tanah tersebut, berharap masih tersisa potekan Kaktus miliknya
yang hilang.
Ibu
dan Ayah King bergegas ke halaman untuk menenangkan King. King yang sudah
kelabakan segera mengeruk tanah tersebut. Ia malah mendapat sebuah gulungan
kertas kecil yang cukup panjang. King sudah bisa membaca sejak TK, ia lalu
dengan mudah melafalkan tulisan tersebut.
1.
Aku,
Si Kaktus Bulat Berduri. Sekarang sedang main di rumah orang bernama Kiki.
Karena ia mempunyai Pohon Jambu yang sangat besar. Aku suka dengannya, karena
mengingatkanku pada Paman Pohon Kelapa yang tinggi besar.
2. Aku,
Si Kaktus Jangkung Berduri. Sekarang sedang main di sekolahmu. Sekolahmu
ternyata mempunyai kolam ikan yang mengingatkanku pada Oasis.
3.
Aku,
Si Kaktus Banyak Berduri. Aku sedang berada di suatu tempat. Disini banyak
sekali orang-orang. Aku suka! Mereka semua bersimpuh di hadapan Tuhan, dan
menjalankan kewajibannya.
King
terdiam sejenak. Apakah tiga pohon kaktus itu benar-benar hidup dan berjalan ?.
itu terdengar mustahil, tapi memang begitu kenyataannya.
“Aku harus mencarinya!” King segera
bergegas mandi dan mengganti pakaiannya. Ini masih hari liburan setelah usai
pembagian rapor. Tapi ia malah terlihat lebih enerjik di banding saat masuk
sekolah.
“Aku kerumah Kiki ya Bu!.” Kata King
segera berlari keluar rumahnya. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Rumah
Kiki tidak jauh dari rumahnya, karena mereka bertetangga dan hanya berbeda Blok
Rumah. Ibu King ikut berlari keluar, untuk memastikan anaknya baik-baik saja.
“Permisi... Kiki...” King berdiri di
depan pagar rumah Kiki yang cukup tinggi. Ia lalu mengutarakan pandangannya
untuk mencari sang Kaktus Bulat yang katanya berada dekat pohon jambu rumah
Kiki.
Kiki yang membukakan pintu pagarnya.
King melihatnya dengan sebal. Ia masih mengingatnya kalau Kiki yang
menghilangkan penghapusnya waktu itu.
“Kau mau mengadu pada Ibuku kalau
aku mencuri ?. Sudah Ku bilang, kalau bukan aku yang mengambilnya.” Kiki segera
masuk kembali kedalam rumahnya. Ibu Kiki sedang berada di belakang dapur, jadi
ia tidak mendengar kerusuhan kecil ini. Ibu King berada tidak jauh dari tempat
King berada. Ia malah mirip seperti mata-mata sekarang.
“Tunggu sebentar! Boleh aku masuk
?.” King berbicara lembut sekali. Kiki lalu memperbolehkannya masuk dengan
tetap memasang wajah yang sebal.
King
mencari pohon Kaktus tersebut, yang tidak terlihat sama sekali ada dimana.
“Kau
lihat pohon Kaktusku yang bentuknya bulat ? jangan-jangan kau yang
menyembunyikannya.” Tanya King dengan cemas.
“Kau
menuduhku mencuri lagi ?. Aku hanya punya pohon jambu, dan rumput kau tau!”
Kiki membentak dengan wajah yang ingin menangis.
Ia
lalu ingat ucapan ibunya, yang bilang mungkin
saja penghapus tersebut jatuh di lantai. King mencarinya tidak hanya di
area pohon jambu saja. Ia juga mencarinya ke dekat rumput-rumput rumah Kiki
yang sangat rimbun itu.
“Ketemu!”
King tersenyum sumringah menemukan Kaktus yang berada tersembunyi dekat rumput
dan tanaman lainnya. Ucapan Ibunya ternyata benar. Ia lalu menatap Kiki yang
terlihat sebal saat melihat dirinya.
“Maaf...
Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Maukah kau bersahabat denganku lagi ?.
Aku tau, bukan kau yang mencurinya. Kiki yang ku kenal adalah anak baik dan
cantik. Aku sadar, kalau Kaktus sendiri yang ingin datang kerumahmu karena
ingin bertemu Pohon Jambu.” Kata King membuat Kiki tambah bingung.
“Aku
tidak suka di tuduh seperti itu. Ayah Ibu tidak pernah mengajarkanku untuk
mencuri. Jangan kau ulangi lagi. Aku memaafkanmu. Oh iya, dan jangan pelit lagi!”
Kiki menangis kecil dan kemudian mereka bersalaman.
King
dan Kiki kini bersahabat kembali berkat sang Kaktus Bulat Berduri. Kaktus telah
menyelamatkan persahabatan mereka yang dulu sempat berakhir tidak mengenakkan.
***
King
berlari menyelesaikan pencarian Kaktus kedua. Ibunya kemudian menghalanginya
saat King ingin nekat pergi ke sekolah seorang diri. Wajahnya sedih, karena ia
takut Kaktus Jangkung akan hilang.
“Tidak
bisa King. Ini hari libur smester. Sekolah sedang tutup.” Kata Ibu King sambil
memberikan secangkir susu kental untuk King.
Pagi
ini, Kaktus bulat tidak lagi King taruh di belakang halaman rumahnya. Melainkan
di dalam kamarnya. Ia tidak ingin kehilangan Sahabat Kaktusnya lagi.
“Besok
boleh ?.” King bertanya pada sang Ibu dengan pandangan memohon.
“Boleh.”
Kata Ibu King seraya memberi setangkap roti tawar berisi selai coklat kesukaan
King.
***
Esok
pagi King sudah bersiap untuk segera berangkat ke sekolah. Ia menarik-narik
lengan Ibunya agar segera berangkat ke sekolah dengan cepat. King takut Kaktus
jangkung keburu pergi dari sekolah dan meninggalkan King.
“Mana
Bu! Kaktus ku tidak ada di sekitar kolam.” Rengek King setelah sampai di kolam
dekat halaman sekolahnya. Sebelumnya Ibu King telah meminta bantuan kepada
satpam sekolah untuk membukakan pintu gerbang sebentar saja.
“Coba
kau ingat-ingat. Apakah kolam hanya ada yang berisi air dan ikan saja ?.”
Ibunya tersenyum usil. Ia segera mengutarakan pandangannya pada sebuah kelas
yang tidak asing lagi.
“Ada
satu kolam yang keren menurutku. Kolam yang berbentuk gambar yang ada di dalam
kelasku. Gambarnya ada di dinding sebelah papan tulis. Isi kolamnya juga
banyak, ada angsa, kodok, ikan, rumput, pohon teratai, bahkan kura-kura besar.”
King menceritakannya dengan detail yang ada di dalam imajinasinya.
King
berlari menuju ke dalam kelasnya, ia menarik gagang pintu yang tidak bisa di
buka sendiri olehnya. Ibu King membantunya dengan mendorong pintu tersebut
secara kuat. Keadaan kelas sangat gelap, tetapi terang di sinari matahari pagi.
“KEJUTAN!!!”
Teriak seisi kelas dengan ramai. King kaget dengan banyak suara yang
menggelegarkan kelas itu. Ada Bu guru, teman-temannya, bahkan Kiki ada di sana.
“Bu,
apakah ini masih hari libur ?. Tapi, kenapa teman-teman masuk sekolah semua ?.”
Tanya King dengan wajah polosnya.
“ini
masih hari libur. Mungkin mereka berkumpul untuk membantumu bergotong-royong
mencari Kaktusmu yang hilang.”
Mereka
semua berusaha bersama untuk mencari dimana letak sang Kaktus Jangkung berada.
“Aku
melihatnya!” King berteriak saat melihat penghapusnya yang sudah lama hilang
itu. Penghapusnya berada jauh di pojok ruang kelas yang tidak bisa di jangkau
dengan tangan, karena terhimpit oleh lemari guru.
“Aku
menemukannya!” Teriak Kiki saat melihat Sang Kaktus berada di dalam laci meja
guru yang letaknya tidak jau dari gambar Kolam Ikan yang terpajang di dinding
dekat papan tulis.
Mereka
semua merayakan hal tersebut dengan penuh suka cita. King yang berada di antara
mereka tersenyum sumringah dengan kejadian tersebut.
“Ibu,
aku ingin bicara dengan mereka semua.” Kata King mendekati Ibunya yang sejak
tadi tersenyum melihat hal tersebut.
“Anak-anak
tolong duduk sebentar ya. Ada yang ingin di sampaikan oleh King.” Kata Bu Guru
memberikan aba-aba pada yang lainnya.
“Teman-teman.
Aku minta maaf atas perbuatanku yang tidak baik selama ini. Aku tau, kalau aku
ini pelit, menyebalkan. Aku mohon maafkan aku. Tolong, jadikan aku sebagai
teman kalian lagi ya ?.” King berbicara dengan percaya diri di depan kelas
sambil memegang sebuah Pot Kaktus yang Kiki temui.
“Iya
King. Sama-sama.”Jawab anak-anak secara awut-awutan.
King
tersenyum sumringah. Kini ia telah mendapatkan teman-temannya kembali. Kaktus
benar, kita tidak bisa menjalankan hidup ini hanya seorang diri. Mungkin, jika Ibu
dan teman-temannya juga Bu guru tidak membantunya untuk mencari Sang Kaktus
Jangkung, sepertinya sampai sekarang Kaktus ini akan haus karena ia berada di
dalam laci yang pengap tanpa udara.
Dengan
berakhirnya pencarian Kaktus kedua. Ibu King ternyata telah menyiapkan sebuah
pesta kecil di kelas King, dengan alasan bahwa dua hari yang lalu King berulang
tahun.
***
King
terlihat lelah setelah pencarian Sang Kaktus Jangkung. Ia kemudian tertidur
lelap hingga sore hari menjelang. King sampai lupa memberikan Kaktus siraman
air, dan mencari Kaktus ketiga untuk di bawa pulang.
Ibu
King dengan penuh pengertian, menyirami Pot tersebut dengan air yang cukup dan
membawa pot tersebut ke kamar mandi sebentar ,agar airnya tidak menetes di
kamar tidur King.
***
Pencarian
Kaktus ke tiga di mulai esok harinya, karena King yang terlalu lelap tertidur
hingga sore hari menjelang.
Hari
ini, King ingin menuntaskan misinya mencari Pohon Kaktus terakhir. Ia ingat
jika ini adalah hari Jum’at. Hari di mana ia menjalankan Ibadah Sholat Jum’at
bersama ayahnya. King sudah bersiap akan pergi dengan ayahnya ke Masjid yang
tidak jauh dari rumahnya.
Dalam
perjalanan, King menceritakan semua pada ayahnya tentang kejadian sejak
kaktusnya yang hilang bisa di temukan kembali.
“Aku
pertama kalinya tidak percaya Yah, bahwa Kaktus ternyata juga mempunyai
perasaan. Dan ia bisa pergi kemanapun yang ia mau.” King bercerita kepada Ayahnya,
yang di sambut dengan senyuman sang Ayah. “Tapi, sekarang aku percaya bahwa
semua makhluk di dunia ini punya perasaan.”
Tiba-tiba
di dekat jalan raya menuju masjid, King melihat Si Kaktus Ketiga sedang bersama
kumpulan tanaman Bonsai lainnya. Ia lalu berlari dan menghampirinya. King sangat
ingat bentuk Kaktus tersebut, meskipun ia baru melihatnya satu malam. Ia juga
masih ingat warna Pot Kaktus yang berbeda dari yang lainnya. Kado Kaktus dari
ibunya mempunyai Pot yang di lukis dengan gambar warna-warni. Sesuai dengan Pot
Kaktus yang sekarang King lihat.
“Itu!
Itu Kaktusku Ayah. Dia pasti sedang bermain dengan teman-temannya.” Kata King
sambil melihat sekeliling Kaktusnya yang penuh dengan tumbuhan Bonsai lainnya.
“Kita
Sholat dulu. Baru nanti bertemu Kaktus ya ?.” Tanya Ayah dengan lembutnya.
“Iya
Yah.”
***
Setelah
Sholat Jum’at selesai, King kembali kepada Sang Kaktus untuk segera membawanya
pulang kerumah.
“King
yakin itu Kaktus milik King ?.” Tanya Ayahnya seketika.
“Iya
Ayah. Aku sangat yakin. Apalagi dengan gambar Potnya. Lalu bentuknya juga sama.”
King dengan percaya dirinya segera mengangkat Kaktus itu untuk segera di bawa
pulang kerumah.
Dirumah
kini, King telah kembali menemukan Kaktusnya yang hilang. Tiga buah Kaktus
Pemberian dari Ayah dan Ibunya. Berkat Sang Kaktus, King telah memiliki teman
kembali. Berkat Sang Kaktus, King bisa
berbaikan dengan Kiki dan bermain bersama kembali. Berkat Sang Kaktus, King
belajar bahwa semua Makhluk Hidup di dunia ini memiliki perasaan, King juga belajar bahwa hidup harus saling tolong-menolong.
SELESAI


Komentar
Posting Komentar