Mata Dalam Mantra (Part 1)
Mata
Dalam Mantra
Oleh Noer Anna Della
Besok Kakiku akan bermain pada sebuah
Karpet Hijau terbentang. Doaku terkabul, usaha membuahkan hasil. Ini isi
diaryku yang terakhir, Karena Halamannya telah habis. Dan di lembaran terakhir
ini, aku memberikan penutup Diary yang membahagiakan hatiku.
Besok aku akan tampil di Kejuaraan
Bulutangkis antar Sekolah. Ini memang baru Awal dan pertama kalinya aku
mengikuti lomba. Tapi perasaanku hari ini sungguh membuatku bahagia. Aku masih
ingat betul saat penyeleksian itu di umumkan di Sekolah. Yang berminat bukan
hanya aku saja, tapi ada banyak. Aku mewakili Sektor Tunggal Putri untuk SMA
ku.
Aku akan berlatih keras untuk ini. Aku
percaya jika aku dapat melakukannya jika bersungguh-sungguh. Semoga cita-citaku
untuk menjadi seorang Atlet Nasional akan Terkabul.
Amiin.
Kai
menutup halaman terakhir buku Diary nya. Ia kemudian terlelap dalam tidurnya,
dan memastikan dirinya akan siap di esok hari untuk melaksanakan Kegiatan besar
yang ia nanti-nantikan sejak dulu.
***
Pagi
itu, sebuah rumah yang kosong sejak setahun yang lalu kini telah di isi oleh
sebuah keluarga baru. Ayah, Ibu dan seorang Anak Pria yang baru saja lulus SMA.
Magenta- nama anak pria tersebut, langsung bergegas menuju lantai atas untuk
segera menempati kamarnya yang terlihat agak luas itu. Ia langsung tertidur di
atas lantai Kayu yang bernuansa klasik tersebut. Rumahnya berukuran sederhana,
tetapi berasitektur Klasik.
“Magenta!
Sudah Ibu bilang. Rapikan dulu kamarmu, baru tidur! Dasar anak pemalas!.” Bentak
ibunya yang terlihat galak, namun sebenarnya baik.
“Iya
Bu. Aku hanya ingin merasakan lembutnya lantai kayu.” Kata Magenta mengeles dan
kembali bermalas-malasan.
Magenta
memang handal dalam hal bermalas-malasan. Ia hanya menyukai buku novel dan tidur.
Tetapi nilainya selalu baik di pelajaran, namun dia buruk dalam olah raga.
Kondisi Fisiknya lemah, karena ia terlalu malas untuk bergerak.
Ia
mengelilingi kamar berlantai Kayu itu dengan bermalas-malasan sambil merapikan
peralatannya. Sebuah kamar berukuran 7x7 Meter. Ia dengan usil membuka dengan
gebrakan keras pintu kamar mandinya. Lalu ia membuka dengan dorongan kuat
jendela kamarnya yang berbentuk persegi panjang itu.
“Debu
di mana-mana.” Magenta berdecak sebal sambil bergurau. Ia lalu membereskan
segera peralatannya menuju rak-rak kayu yang sudah lama terbungkus
platik-plastik besar itu.
“Sebenarnya
ini terdengar mustahil. Bagaimana rumah seklasik dan sebagus ini di jual dengan
harga yang murah beserta isi-isi nya. Kadang aku berpikir, pasti ada hal ganjil
di balik ini semua. Bayangkan saja, dua lantai!” Gurau Magenta lagi, sambil
bermalas-malasan.
Umur
Magenta baru beranjak delapan belas tahun, dan akan segera memasuki bangku
kuliah. Wajahnya bersih. Dia tidak tampan, tetapi menarik. berperawakan tinggi
dengan kulit kuning langsatnya. Ciri Khasnya terletak pada Kaca mata berbentuk bulat
yang setiap hari ia kenakan.
Ia
merinding sejenak setelah beberapa menit berdiri di depan jendela kamarnya yang
berhadapan langsung pada sebuah pohon jambu berukuran sedang milik rumah
tersebut.
“Ini
Naluri Manusia bukan ?. Pemikiran tentang mitos mistis yang ada di pohon jambu
membuatku merinding sekarang.” Magenta bergurau untuk kesekian kalinya. Ia
sering bergurau pada dirinya sendiri, akibat dirinya yang tidak memiliki teman
di sekolah dulu.
“Ah!
Tidak mungkin ada sesosok kuntilanak di siang bolong begini kan ?.” Guraunya
sambil tertawa kecil, agar pikirannya menjadi rileks. Sejak tadi ia merasa
seperti ada yang memperhatikannya lewat Pohon Jambu tersebut. Seperti ada
sepasang mata yang mengitai.
***
Masa
Orientasi Mahasiswa di mulai sejak hari ini. Magenta tetap pada kebiasaan dan
kepribadiannya. Penyendiri, aneh, dan suka berbicara pada dirinya sendiri.
BRUK!
Magenta
bertabrakan dengan seorang Gadis mungil di hadapannya saat ia di lorong kampus
koridor yang menghubungkan fakultas olah raga dan fakultas MIPA. Sebenarnya
tidak mungil, hanya saja karena tubuh Magenta yang terlampau tinggi dan bidang,
membuat gadis itu jadi terlihat lebih mungil. Kadang Magenta berpikir, ini
sebuah anugrah dari Tuhan. Ia bisa mendapatkan tubuh ideal padahal tidak
menyukai Olah Raga.
“Maaf.”
Kata gadis itu lembut. Perawakannya sederhana dengan kulit sawo matangnya yang
terlihat manis. Ia di kuncir kuda, dan berpakaian casual.
“Maaf
ya.” Kata Magenta lebih merasa bersalah
lagi. Tubuh tingginya kadang membuatnya merasa bersalah saat menyenggol atau
menabrak orang lain. Karena tulang-tulangnya yang sepertinya terlihat berat
jika menabrak orang.
Magenta
melihat matanya. Ia menilainya sejenak. Gadis tersebut adalah idamannya.
Wajahnya tetap datar, namun hatinya mulai bergejolak. Ini pertama kalinya ia
menyukai seorang Gadis!
***
Sungguh ini nyata. Untuk pertama kalinya aku
menyukai seorang gadis. Matanya membuatku menyukainya. Senyumnya meminta maaf
tadi pagi terlihat sangat tulus.
Coba
ku tebak! Pasti dia di jurusan yang
bersangkutan dengan Olah Raga. Aku menyimpulkan itu karena dia pernah melewati
Koridor Fakultas Olah Raga tadi.
Magenta
menuliskannya pada sebuah buku diary yang halaman terakhirnya telah habis
tersebut. Hari pertama Masa Orientasi seketika membuatnya lelah. Karena
fisiknya yang lemah, malamnya ia terserang demam yang hebat. Dia sakit, tanpa
ada yang mengetahuinya.
Magenta
seketika mengalami sleep paralyzed saat ia tidur. Badannya berkeringat, dan
tidak bisa bergerak. Ia memimpikan sebuah kamar kosong berlantaikan Kayu yang
terlihat tidak asing baginya.
“Ini
kan kamarku.” Katanya dalam hati. ada yang terlihat aneh dan berbeda dari
bentuknya yang asli.
Terlihat
sebuah lantai berukuran kotak dekat pojok jendela kamarnya. Lantai yang
terlihat menyatu dengan lantai lainnya. namun terdapat sebuah bolongan kunci.
Seperti Kotak rahasia. Dan tak berapa lama sepasang mata besar menatapnya
tajam. Mata yang selama ini ia rasakan mulai menampakan dirinya perlahan.
Magenta ingin berteriak namun sulit di keluarkan. Sampai akhirnya seseorang
menggoyangkan badanya.
“Magenta!
Hei! Bangun!.” Ibunya membangunkannya dari mimpi tidur yang mengerikan
tersebut.
Tubuhnya
sangat berkeringat dan terengah-engah. Rasanya seperti berlari dalam mimpi.
“Aku...
mimpi...aneh...Bu.” Kata Magenta sambil meminum segelas air dari tangan ibunya.
“Kau
demam. Ibu ambil obat dulu.” Kata Ibunya setelah memegang Dahi anaknya itu.
Setelah
meminum Obat, Magenta kembali merebahkan dirinya di atas Kasur. Satu jam, dua
jam, ia tetapi tidak bisa menutup matanya. Ia kemudian memikirkan sebuah lantai
yang ada di mimpinya tersebut.
“Ah
tidak mungkin kan ?. Itu hanya mimpi.” Gurau Magenta tidak percaya. Lalu ia
berpikir kembali. Apa salahnya untuk di telusuri.
Ia
lalu berdiri di depan pintu kamarnya dan mengutarakan matanya ke sekeliling
Kamar tidurnya. Ia ingat jika Lantai itu ada dekat Jendela Kamar. Saat ini,
jendela kamrnya dekat dengan tempat tidur dan meja belajarnya.
“Jika
begitu, jadi seharusnya TKP nya ada di kolong tempat tidurku.” Kata Magenta
menelisik.
Ia
lalu mendorong tempat tidurnya yang cukup berat tersebut. Lalu berdiam sejenak
dan terperangah. TKP itu memang ada!
***
Sampai
di hari kedua ia mengikuti Masa Orintasi, ia masih memikirkan tentang Kotak
lantai tersebut.
“Dimana
kuncinya berada ya ?.” Gumam Magenta dalam hati.
BRUK!!
Dan ia kembali menabrak orang.
“Maaf.”
Kata seorang Gadis yang suaranya terdengar tidak asing di telinga Magenta.
“Maaf
sekali... Aku benar-benar sedang melamun.” Kata Magenta benar-benar merasa
bersalah. “Dia lagi.” Gumam Magenta dalam hati.
“Kau,
yang kemarin ?.” Kata Gadis itu tersenyum.
“Sungguh
ini salahku. Aku memang kadang suka melamun.” Kata Magenta merasa bersalah.
“Kau sendirian ?.” Tanya Magenta agak malu.
“Kau
juga sendirian. Haha...”Kata Gadis itu membalikkan ucapan magenta.
“Aku
memang suka sendiri.” Kata Magenta berterus terang. Gadis itu kemudian membelalakan
matanya, seperti suatu perkataan yang tidak asing ia dengar. “Bagaiman kalau
kita ke kantin bersama ?.”
“Boleh.”
Gadis tersebut mengiyakan ajakan Magenta.
***
Ini
pertama kalinya Magenta mencoba untuk mendekati seorang Gadis, dan ia berhasil.
Kini ia telah mengetahui nama masing-masing. Gadis yang bernama Key itu masuk
pada Prodi Olah Raga sesuai dugaan Magenta. Dan ia terlihat kagum saat Magenta
bilang bahwa Prodinya adalah Sains.
“Wah,
kau pasti jenius saat sekolah.”Kata Key terlihat kagum.
“Ah
tidak juga. Kalau kau, kau pasti jago Olah Raga.” Kini giliran Magenta yang
terkagum-kagum.
Saat
sampai di rumah, Magenta kembali terpikirkan dengan sleep paralyzed nya.
“Ah,
mungkin kuncinya sama seperti kunci rumah ini.” Gumam Magenta menebak.
Ia
lalu menghampiri Ibunya yang sedang berada di dapur. Sore ini langit terlihat
mendung. Bahkan mendung yang terlihat tidak seperti biasanya. Magenta meminta
kunci tersebut pada Ibunya. Lalu ia segera membuka kotak rahasia itu.
“Terbuka!”
Katanya penuh semangat. Ia segera membukanya. Dan.. “Hanya sebuah buku ?.” Katanya
penuh tanya.
Magenta
membukanya dengan sedikit takut. Debu buku tersebut membuatnya terbatuk-batuk.
Kertasnya sudah terlihat kecoklatan dan lusuh. Buku setebal Novel Harry Potter
ke tujuh itu terlihat penuh misteri. Sampulnya bewarna Cokelat dengan berlapis
seperti kain perlak. Magenta terlihat penasaran, dan segera membacanya.
“Buku ini adalah Kado dari adikku. Dia
membelinya di Toko kelontong dekat komplek. Yang membuatku terharu, ia rela
mengumpulkan uang sakunya dan membeli ini saat hari ulang tahunku. Remaja
cantik yang aku sayangi. Kai.”
Magenta membaca halaman pertama. Ia menebak jika buku tersebut adalah
buku diary milik seseorang.
Ia
menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku diary tebal tersebut. Dalam
Hati, ia merasa penuh dosa telah membaca rahasia orang. Tetapi mimpi tadi malam
seperti memberi tanda untuknya, bahwa orang tersebut sedang membutuhkan bantuan
orang lain. Dan orang lain tersebut kebetulan jatuh kepada dirinya.
Hingga
jam dua belas malam, Magenta masih terus mebacanya. Seketika ia merasa
merinding. Seperti ada sepasang mata yang kemudian mengintainya kembali dari
luar jendela kamar. Magenta berpikiran bahwa ini adalah de javu yang ada di
mimpi anehnya kemarin malam.
Dan
sampailah pada halaman terakhir Diary tersebut
“Besok Kakiku akan bermain pada sebuah
Karpet Hijau terbentang. Doaku terkabul, usahaku membuahkan hasil. Ini isi
diaryku yang terakhir, Karena Halamannya telah habis. Dan di lembaran terakhir
ini, aku memberikan penutup Diary yang membahagiakan hatiku.
Besok aku akan tampil di Kejuaraan
Bulutangkis antar Sekolah. Ini memang baru Awal dan pertama kalinya aku
mengikuti lomba. Tapi perasaanku hari ini sungguh membuatku bahagia. Aku masih
ingat betul saat penyeleksian itu di umumkan di Sekolah. Yang berminat bukan
hanya aku saja, tapi ada banyak. Aku mewakili Sektor Tunggal Putri untuk SMA
ku.
Aku akan berlatih keras untuk ini. Aku
percaya aku dapat melakukannya jika bersungguh-sungguh. Semoga cita-citaku
untuk menjadi seorang Atlet Nasional akan Terkabul.
Amiin.”
Pada
halaman terakhir ini, Magenta dengan sadar membaca menggunakan suaranya. Suara
yang pelan namun jelas itu niatnya ia gunakan agar ruangan kamarnya tidak
terlihat sepi. Karena sejak tadi ia mulai merinding membaca buku tersebut saat
di halaman tengah.
Suara
petir di malam ini mengagetkannya. Mendung sejak Sore tadi, membuat malam ini
terjadi hujan yang sangat deras. Sepasang mata yang sejak tadi Magenta rasakan
di luar jendela kamarnya tiba-tiba menghilang kembali saat ia menengoknya. Dan akhirnya
muncul di hadapannya sekarang!
“Si...siapa...K..Kau
?. Masuk dari mana ?.” Magenta bertanya panik. Sesosok perempuan sebaya
dengannya berambut panjang sebahu dan memakai baju putih mengagetkannya.
Wajahnya dingin dan pucat, dengan sedikit luka-luka memar di wajahnya.
“Kau
memanggilku tadi.” Jawab perempuan itu dengan wajah malasnya.
“A..Aku..
tidak memanggilmu! Sana per..gi. Ibu bisa marah kalau tau ada perempuan masuk
ke kamarku tanpa izin.” Katanya takut.
“Dasar
anak Mama. Itu buku diaryku. Kau membacanya tanpa izin!”
“Ini
ku kembalikan. Maafkan aku. Sana pergi!” Magenta mengusirnya sekali lagi. Dan
tiba-tiba perempuan itu menghilang sebelum mengambil bukunya. “Dia hantu ?.”
Magenta segera meringkuk di dalam selimutnya. Kemudian kembali ada yang
mengguncangkan tubuhnya. Magenta yang sedang ketakutan, menjadi lebih takut
lagi bahkan hampir pingsan. Hantu itu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali.
“Hei...
Apa wajahku sangat menyeramkan ?. Janji deh, aku tidak akan mengganggumu lagi
setelah kau membantuku.” Hantu itu merayu Magenta sambil menggoncangkan
tubuhnya.
“Sana
Pergi!” Kata Magenta mengusir ke sekian kalinya.
“Kau
telah memanggilku. Membaca rahasia terbesarku yang kusimpan baik-baik sebelum
aku di jemput Tuhan. Sekarang gantian aku yang meminta pertolonganmu.”
“Kapan
aku memanggilmu!.” Magenta masih mengeluh akan kehadirannya.
“Halaman
terakhir yang kau baca! Aku merasa terpanggil. Aku juga sudah mengintaimu sejak
kau pindah kesini. Rumahku ada di Pohon Jambu depan jendela kamarmu. Mata yang
selama ini muncul melihatmu, itu adalah mataku. Bukan hanya perasaanmu saja.”
“Apakah
itu mantra ?.”Magenta terlihat sudah meredakan ketakutannya.
“Bukan.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri. jika ada yang membaca diaryku sampai
habis, berarti ia ingin menolongku. Karena membaca buku setebal itu butuh
pengorbanan.”
“Pengorbanan
?.”
“Ya.
Aku mungkin akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membacanya. Dan kau
hanya butuh waktu enam jam. Kau jenius!” Hantu itu terlihat polos. Magenta kini
mulai menampakan wajahnya pada hantu itu.
“Kau
tidak menakutiku. Kau hanya mengagetkanku. Ini pertama kalinya aku melihat
hantu. Dan waktu berbulan-bulan hanya untuk membaca buku setebal ini ?. Kau
berarti malas untuk membacanya.” Magenta memamerkan kelebihannya. Dia memang
handal dalam membaca berlembar-lembar kertas, bahkan bertumpuk-tumpuk buku.
Karena itu adalah hobinya.
***
Sudah
jam tiga pagi, namun Magenta masih melamunkan kejadian hari ini. Menurutnya ini
seperti mimpi buruk. Tapi ini memang benar kenyataan. Bahkan dia sempat
mempertanyakan, apakah dia bisa melihat hantu akibat terserang penyakit demam
kemarin.
“Aku
harus menolongmu bagaimana ?.” Magenta bertanya malas.
“Tolong
bantu aku mewujudkan impianku.” Hantu itu berjongkok di depan Magenta dengan
penuh harap.
“Jadi
kau gentayangan sampai sekarang hanya karena itu ?.”
“Hanya
karena itu kau bilang! Kau telah membaca diaryku kan ?. berarti kau dapat
menyimpulkan jalan hidupku meraih mimpiku!” Hantu itu marah bukan kepalang.
“mm..
“Baru saja Magenta ingin menanyakan namanya.
“Kai!
Panggil aku Kai!” kata Hantu itu masih marah. Dan membuat Kaget Magenta karena
bisa membaca pikirannya.
“Jadi
begini. Seumur hidupku, aku tidak menyukai olah raga. Jujur saja, dari kecil
aku lemah fisik. Ini akibat aku terlalu malas untuk bergerak.” Magenta
menjelaskan malas.
“Nah,
oleh sebab itu inilah saatnya kau keluar dari zona nyamanmu. Kau juga bisa
mendekati si Key mu itu lebih jauh jika kau hebat dalam Olah Raga nanti kan ?”
Kai-Si Hantu terkekeh geli.
“Dari
mana kau tau Key ?. Kau membaca diaryku juga ?.” Magenta melotot marah. Anak
laki-laki biasanya sulit terbuka dengan sebuah percintaan.
“Kau
ingat kan mataku mengawasimu sejak kau pindah rumah kesini ?. Aku hanya tau
satu lembar diary mu saja. Tidak lebih. Karena hanya itu yang ku tau.” Kai
tersenyum jail.
Magenta
menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia malu rahasianya ketahuan oleh sesosok
hantu. Ini tidak di duganya sama sekali.
“Jadi
?.” Magenta berusaha kembali pada topik.
“Kau
terima misi ini atau tidak ?.”
“Aku
terima. Jangan tanya alasannya kenapa.” Magenta berkata cepat.
“Aku
tau alasan klasik macam ini. Haha...” Kai tertawa sebentar. Cinta memang kadang
membuat orang lupa akan segala hal.
Kai
lalu memberitahu misi tersebut secara panjang dan lebar kepada Magenta.
***
Sepulang
dari kampus, Magenta segera bergegas ke kamarnya sambil membawa sebuah gelas
plastik. Ia lalu memotong-motong beberapa kertas menjadi beberapa bagian dan
menuliskan beberapa cabang olah raga yang ia ketahui, lalu memasukkannya
kedalam gelas tersebut dan mengikatnya dengan kertas juga karet.
Keinginan
Kai adalah ia ingin Magenta membantunya untuk mewujudkan mimpinya hadir di kejuaraan
olah raga antar sekolah sebagai peserta. Malahan jikalau bisa, Magenta bisa menjadi
juara dalam kejuaraan itu.
“Door!”
Kai mengagetkan Magenta yang sedang serius.
“Sekali
lagi kau mengagetkanku, besok akan ku tebang pohon jambu kesayanganmu itu!”
Magenta mengancam sambil mengelus dadanya yang sempat kaget. “Jangan sampai aku
kena lemah jantung karena Hantu.” Gumam Magenta sebal.
“Kau
mau arisan ?.” Kai bertanya dengan polosnya.
“Ini
untuk menentukan impianmu. Jujur saja, aku tidak menyukai bulu tangkis. Karena
butuh waktu lama untuk mendapatkan skor dan aku tidak sekuat itu menahan
fisikku yang pas-pasan ini.”
“Lalu
?.”
“Aku
akan memilih lewat kocokan ini. Aku bingung memilih yang mana. Jadi aku
pastikan dengan pengocokan ini. Di kocokan ini, hanya terdapat olah raga yang
tidak memerlukan waktu lama untuk selesai.”
Magenta
mulai mengocoknya dan mengeluarkan satu nama Olah raga yang menurutnya agak
menyebalkan.
“Apa
isinya ?.” Tanya Kai tidak sabar.
“Lari.”
Jawab Magenta lemas. Lari memang tidak begitu memakan waktu lama. Namun cukup
melelahkan juga.
“Jika
kau tidak ingin memilih berlari juga tidak apa-apa.”Kai segera menenangkan. Ia
menyerahkan semuanya pada Magenta.
“Tidak.
Aku akan menjalankannya.” Magenta bersikukuh. Satu hal yang telah di camkannya
sejak kecil. Dia tidak pernah mengingkari janjinya sendiri. ”Aku mungkin akan
memilih lari jarak pendek atau estafet. Tidak untuk marathon.”
Magenta
lalu kembali ke kasurnya dan menikmati tidur siang hari ini.
***
Ini
adalah hari terakhir Masa Orientasi di kampus Magenta. Semua anak ramai-ramai
di kumpulkan menjadi satu di sebuah lapangan besar kampus. Lalu terdapat
stan-stan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang berada di dekat lapangan kampus.
Magenta
berjalan enggan menuju Stan UKM Olah Raga. Ini seperti memaksa memakan buah simalakama.
“Mau
daftar ya ?. silahkan tulis nama, Prodi dan nomor teleponnya.” Kata seorang
penjaga stan tersebut.
“Sebelumnya
saya ingin tanya. Olah raga apa saja yang ada di UKM ini ?.” Magenta bertanya
dengan wajah lugunya.
“Di
UKM ini, kami ada Tae Kwon Do, Basket, Futsal, Silat, Renang, Bulu Tangkis dan
Lari.” Penjaga stan tersebut menjelaskan. Ia lalu menyerahkan selembar brosur
kepada Magenta.
Seperti
sebuah kebetulan bagi Magenta, ada UKM Lari di kampus ini. Magenta mengisinya
dengan hati yang bimbang. Setelah itu ia memutuskan untuk kembali pada
kelompoknya. Langkahnya gontai. ‘bisa-bisanya aku senekat ini demi seorang
perempuan yang baru aku kenal. Bahkan aku kadang bermalas-malasan saat di suruh
ibu mencuci piring’. Batin Magenta bimbang.
BRUK!!
Lagi, ia menabrak seseorang.
“Magenta
?. Kau melamun lagi.” Kata Key tersenyum meledek.
“Maaf...maaf..”
Jawab Magenta merasa bersalah.
“Kau
mencetak Hatrick,Genta. Haha...” Key menyeringai tertawa.
***
“Aku
sudah mendaftar UKM Olah Raga.” Magenta berkata malas. Kai masih mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru kamar itu.
“Namamu
Magenta. Tapi menurutku, Kau pria tulen.” Kai menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
“Ibu
menyukai warna yang bertema merah sejak dulu. Pink, merah marun, merah delima,
dan merah yang lainnya. Dan lahirlah Aku. Tidak mungkin kan dia menamaiku Pinky
atau Scarlet. Magenta masih terdengar wajar untuk anak laki, katanya.” Magenta
mendengus.
“Tapi,
hatimu merah jambu sekali kok.” Kata Kai tertawa menggoda. Maksud ucapan Kai
tadi adalah, bahwa Magenta memiliki hati yang baik dan penyayang.
Magenta
segera melemparkan Kai dengan sebuah bantal guling nya yang jelas akan menembus
tubuh Kai. Ia salah paham dengan maksud Kai yang bilang tentang hatinya yang
merah jambu.
“Aku
bukan Pria lemah gemulai tau!” Katanya galak. Lalu kembali meringkuk di kasur
untuk tidur siang.
Tanpa
sadar di belakang pintu kamar Magenta, Ibunya sedang menguping pembicaraan
mereka dengan seksama. Kecurigaan kecil sedikit menghinggap di hatinya.
***
Di
ruang makan saat malam hari tiba, Ibu memberikan sederet pertanyaan aneh pada
Magenta. Terdengar konyol di telinga Ayah, namun Magenta mengerti maksud
pertanyaan Ibu.
“Kau
punya teman di kamar sekarang ?.” Tanya Ibu agak khawatir.
“Tidak.”
Magenta mengelak dengan santainya.
“Masa
sih ?. Apa kau ingin cerita pada Ibu ?. Ibu siap mendengarnya Nak.” Ibu tetap
memancing dengan sedemikian rupa.
Sebetulnya
Ibu sudah mulai curiga sejak Magenta sering melamun di depan pohon jambu depan
rumahnya. Belum lagi, suara teriakan pelan saat Magenta mengusir seseorang dari
dalam kamarnya.
“Ibu,
Sudahlah. Ayo kita lanjutkan makan.” Ayah menengahi mercakapan mereka berdua.
***
“Ibu
curiga. Jangan muncul saat siang mangkanya! Kau kan Hantu, muncullah di saat
yang tepat. Malam hari contohnya!” Protes Magenta dengan sebal saat kembali ke
kamar tidur.
“omong-omong,
kenapa kau tidak memilih olah raga catur saja. Kau terlihat pintar sepertinya.”
Kata Kai sambil duduk di bawah lantai.
“Aku
hanya suka membaca, tidak terlalu suka berpikir.”Guraunya pelan.
Dan
lagi-lagi, Ibu menguping pembicaraan mereka pada belakang pintu kamar Magenta.
“Benar
kan, ada yang tidak beres pada anakku.” Batin Ibu gusar. Ia lalu kembali ke
kamarnya dan segera memberi tahu Ayah.
***
Bersambung...



Komentar
Posting Komentar